Minggu, 24 Februari 2013

Wangon Jatilawang


Wajah dua tamuku mendadak berubah ketika Sulam masuk. Kedua tamuku itu tentu tidak mengenal Sulam, namun siapa saja yang tinggal di antara Wangon dan Jatilawang pasti mengenal dia.
“Pak,” kata Sulam tanpa ekspresi apa pun.
“Ya,” jawabku. “Nasi atau uang?”
Sulam diam. Diperlihatkannya ujung celananya yang kuyup dan kedodoran yang diikat dengan tali plastik. Di kaos Sulam juga terdapat gambar-gambar yang dibuat oleh anak-anak nakal yang mempermainkannya.
“Nasi atau uang?” ulangku.
“Aku sudah punya uang,” jawab Sulam sambil membuka tangannya yang terdapat kepingan logam. Tapi tangan itu pucat dan gemetar. Aku langsung bangkit dan memberikan sepiring nasi dan segelas teh kepada Sulam. Kedua tamuku masih terdiam melihat kejadian itu.
Selesai makan, Sulam mengangkat sendiri piring dan gelasnya, lalu membawanya kedalam. Anak-anakku tidak takut kepadanya, mereka sudah kenal siapa dia. Sulam pun pergi tanpa sepatah katapun. Kedua tamuku menghembuskan napas panjang-panjang. Lalu salah seorang dari mereka berkata “Maaf, Mas. Aku mau  bertanya siapa orang yang baru kesini tadi.
Lalu aku mendongeng. Suatu hari, habis magrib, Sulam datang. Kebetulan aku sedang mengadakan kenduri. Gerimis yang sejak lama turun, membuat Sulam basah kuyup. Aku merasa tak bias berbuat apapun selain menyilahkan Suloam masuk. Aku lalu menganti pakaiannya dan kuajak dia menikmati kenduri. Kubawa dia duduk di sampingku. Orang-orang yang semula duduk didekatku kemudian menjauh. Kenduri itu pun berakhir tanpa keakraban. Kurasa mereka tersinggung karena Sulam kuajak duduk bersamaku. Semuannya menjadi jelas ketika beberapa minggu kemudian aku mengadakan kenduri lagi. Ternyata hanya beberapa orang yang datang.
Kedua tamuku hanya mengangguk-angguk. Lalu ku teruskan dongengku. Suatu ketika emakku marah-marah karena melihat Sulam menginap di rumahku.
“Yah, bagaimana lagi, Mak. Diluar hujan dan Sulam mampir berteduh. Karena sampai malam hujan tak reda, maka Sulam ku suruh menginap di sini.Bila hujan tak turun, Sulam pun tak mau menginap di sini.” Mendengar dongeng itu kedua tamuku pun tersenyum lepas.
Wangon dan Jatilawang adalah dua kota kecamatan. Jarak keduanya tujuh kilometer atau lebih. Setiap hari Sulam hanya berjalan kaki menempuh kedua pasar itu.
Memasuki bulan puasa, Sulam tetap singgah ke rumahku setiap pagi. Tetapi sikapnya berubah. Dia kelihatan malu ketika menyantap nasi yang kuberikan. Setiap kali Sulam berkata:
“Pak, wong gemblung boleh tidak puasa kan?”
“Ya, kamu boleh tidak puasa. Anakku yang masih kecil juga tidak berpuasa.”
“Tapi aku bukan anak kecil, Pak. Aku wong gemblung,” kata sulam serius.
“Ah, siapa yang mengatakan kamu demikian?”
Sulam tidak menjawab. Kemampuan nalarnya kukira, sangat terbatas. Dan itulah yang menyebabkan semua orang yang tinggal di antara Wangon dan Jatilawang mengatakan Sulam wong gemblung.
Dekat lebaran, pagi-pagi sekali, Sulam sudah berada di rumahku. Ia duduk di ruang makan dengan wajah yang bimbang. Nasi dan sekeping uang tak menarik perhatiannya. Sulam malah bertanya:
“Sudah hamper Lebaran, ya Pak?”
“Ya, empat atau lima hari lagi. Kenapa?”
Sulam menunduk terbengong-bengong, lalu ia berkata:
            “Mestinya Lebaran di tunda sampai emak pulang. Dia sedang pergi kekota membeli baju”    “Oh, aku tahu sekarang. Kamu tak usah menunggu emakmu. Nanti aku yang memberimu baju.”
            Sulam mengangkat muka lalu tersenyum aneh. Nasi di depannya pun dimakannya dengan lahap.
Sudah beberapa jam Sulam masih duduk di ruang makan.
            “Sudah hampir lebaran, ya Pak?”
            “Oh iya. Kamu nanti akan memakai baju yang baik. Tetapi aku tidak menyerahkan baju itu sekarang. Nanti saja, tepat pada hari lebaran kamu pagi-pagi kemari.”
“Di pasar Wangon dan Jatilawang orang-orang sudah membeli baju baru.”
            “Ya, tapi untukmu, nanti saja. Aku tidak bohong. Bila baju itu kuberikan sekarang nanti kamu pasti akan mengotorinya dengan lumpur sebelum lebaran tiba.”
            “Aku kan wong gemblung, ya Pak.”
            “Nanti dulu, aku tidak berkata demikian.”
Aku ingin berkata lebih banyak. Namun Sulam sudah pergi dengan wajah yang murung.
            Dan aku mulai menyesali perkataanku tadi. Mengapa aku khawatir tentang kebiasaan Sulam yang suka mengkotori bajunya. Aku bahkan tidak cukup mengerti tentang perasaannya, dan aku sungguh tidak layak mengaku sebagai sahabat Sulam.
            Jam tujuh pagi hari itu penyesalanku makin mendalam. Seorang tukang becak sengaja datang ke rumahku.
            “Pak Sulam mati tergilas truk dibatas kota Jatilawang.” Aku merasa malu dan perih. Demikian malunya aku tak berani menjenguk mayatnya. Aku merasa sangat bersalah, bahkan aku tidak bisa mengabulkan permintaan terakhirnya. Padahal aku mampu memberikannya.
            Menjelang pagi di hari Lebaran, Sulam datang dalam angan-anganku. Dia hanya menatapku dengan wajah yang jernih dan dengan senyuman. Kemudian Sulam pergi sambil meninggalkan suara tawa ceria.

4 komentar:

  1. apa apahan kie pak .. hahaha ,ana ana bae

    BalasHapus
  2. Tahnks ceritane , senajan cindek tapi lugas lan realistis ora digawe gawe.......nuwun

    BalasHapus
  3. Kemutan wangon ketemu " SULAM" suwun kang wis bagi2 ceritane....

    BalasHapus
  4. Kemutan wangon ketemu " SULAM" suwun kang wis bagi2 ceritane....

    BalasHapus